10.05 WIB Tiba-tiba kereta berhenti lama di salah satu stasiun. Kemudian gue baru tersadar, "gue udah sampe di Malang, cuy ! haha". Ini adalah sebuah sentuhan yang pertama kali banget buat gue. Sampe-sampe ga ngenalin tempat ini. Maklum, kan, emang belum kenalan hehe. Langsung, lah, tanya-tanya aja ke petugas yang berada di sana. Maksudnya, bertanya mengenai akses dan cara untuk menuju Pasar Tumpang dengan menggunakan angkot. Kenapa angkot? kan, gue datang ke sini sendirian alias
solo. Jadi, ga punya rombongan, yang biasanya mereka-mereka itu menggunakan semacam mobil Jeep, yang diantar langsung dari stasiun Malang ke Pasar Tumpang. Biasanya dicarter (dipesan sebelumnya). Mari, kita coba. Yakin, bisa dong. Sok' asik aja hehe.
Dibutuhkan sampe 2x
transfer mobil angkot. Lupa nama angkotnya apa aja, yang pasti warnanya itu putih. Dan kemudian pada pukul 11.45 WIB tiba di Pasar Tumpang. "Oh, jadi ini yang namanya Pasar Tumpang." dalam hati baru tau. Berharap pada saat itu ada rombongan lain yang akan menuju Ranupani juga. Biar bisa nebeng (
join) maksudnya. Nyatanya, ga ada pfft. Gue harus nunggu dulu berarti, sampe ada rombongan yang lain datang lagi. Ranupani adalah gerbang pendakian gunung Semeru. Semua berawal dari sana, salah satunya, untuk melakukan simaksi. Bisa buat mandi juga. Tidur juga bisa, sih. Lengkap pokoknya, lah, haha..
Lama ga kunjung juga. Gue mengira, kayanya ga bakal ada rombongan lagi yang akan menuju ke Ranupani. Inisiatif, gue coba tanya sama orang sekitar, apakah ada ojek motor yang bisa mengantarkan ke Ranupani. Alhamdulillah ada, sudah pasti dengan biaya yang lebih mahal, itu memang. Gue maklumi. Tidak berlama-lama, kami pun langsung menuju Ranupani. Sepertinya ini adalah perjalanan yang panjang, meingingat perjalanan menuju Ranupani terbilang jauh dan medan yang menanjak. Bisa jadi. Saat itu, waktu sudah menunjukan pukul 14.30 WIB. Sudah kesorean ternyata. haha.
Selama perjalanan menuju Ranupani, tidak ada sesuatu yang menghambat kami, kecuali tas keril yang diboncengin di bagian depan, sesekali suka merosot ke bawah, hehe. Di sela-sela itu, gue coba menyempatkan berhenti sesaat ketika di tengah perjalanan, hanya untuk mengambil gambar. Ini adalah sebuah penampakan gunung Bromo. "Ooh.. ini Bromo", sambil senyum kagum gue. Cuaca pada saat itu gerimis, matahari masih belum mau muncul. Padahal ini indah. Perjalanan ini, kami lanjutkan kembali. Sayang banget, huhu.
Pukul 16.00 WIB, kami tiba. Langsung segera
repacking logistik dan melakukan simaksi. Tidak boleh berlama-lama, karena pendakian akan ditutup/diakhiri pada pukul 18.00 WIB di tiap harinya, dan akan dibuka (dilanjutkan) keesokan paginya. Alasannya, mungkin karena faktor keselamatan. Saat simaksi, disertai
briefing juga oleh petugas di sana.
Briefing mengenai prosedur dan standar dalam pendakian gunung Semeru ini. Sederhana, tapi perlu. Ini memang penting.
Pendakian ini gue mulai pada pukul 16.40 WIB. Tidak ada rombongan lain pada waktu gue memulainya, dan perjalanan ini harus tetap dilanjutkan. Bismillah. Cuaca sudah agak mendung, sepertinya akan turun hujan. Semoga jangan dulu.
Lama perjalanan dari Ranupani menuju Ranukumbolo memakan waktu sekitar 4 jam. Jadi, setiba gue di Ranukumbolo, gue berencana akan bermalam di sana (
camp), dan melanjutkan ke Kalimati keesokan paginya. Biar tenaga terkumpul lagi, hehe. Terdapat beberapa pos ketika menuju Ranukumbolo dari Ranupani :
Ranupani - Landengan 1,5 jam
landengan dowo - watu rejeng 1,5 jam
watu rejeng - Ranukumbolo 1 jam
Salah satu hal yang menggembirakan dan menguntungkan buat gue, ketika di awal perjalanan, tepatnya di sekitar jalur menuju Landengan, gue bertemu dengan rombongan lain yang berasal dari Bogor. Mereka berjumlah 12 orang ! Bukan hanya bertemu. Sebelum itu, saat pertama kali gue berpapasan, mereka menyapa gue dengan keramahtamahan khasnya. Mungkin kalian bisa menganggapnya ini adalah hanya sebuah basa-basi biasa, ya, bisa jadi, tapi hal yang seperti ini sangat perlu, karena bisa dikatakan ini adalah gerbang komunikasi dan interaksi untuk kita bisa mengenal lebih jauh dengan seseorang atau kelompok. Tanpa itu, kita akan selalu menjadi pribadi yang tertutup dan terus menguncinya kepada siapa saja yang ingin mencoba masuk. Itu sebuah pilihan. Tidak ada yang salah.
Langkah demi langkah dan waktu demi waktu berlalu, keakraban gue dengan kelompok ini semakin terjalin baik, komunikatif, dan seru. Bisa jadi, hal ini cuma karena sebuah potongan roti yang mereka bagi ke gue, dan beberapa permen yang gue tawarkan ke mereka juga.
Simple, sih, tapi memang beginilah agar terus terjalin baik. Perjalanan pada waktu itu dihadiri cuaca yang sedikit hujan ringan, sehingga menyebabkan pendakian kami sedikit melambat. Ya, sesekali kami berteduh untuk menyeduh beberapa gelas kopi. Ini memang sudah menjadi kebiasaan yang bersifat turun menurun di saat dingin datang. Hangatnya kopi, memang pas juga untuk menghangatkan sebuah pertemanan. Meski ini baru kami lakukan.
Sehabis menikmati kopi yang memang hangat itu, perjalanan kami lanjutkan kembali. Malam itu terasa sudah larut. Ya, kami tiba di Ranukumbolo pada pukul 20.30 WIB. Tenda dan logistik lainnya harus segera disiapkan, karena suhu sudah semakin terasa dingin. Danau ini yang katanya indah, tidak terlihat jelas, mungkin karena gelap pada saat itu. Kita lihat saja besok, apa benar?
20 April 2017
Hari sudah pagi, matahari sudah melakukan aktivitasnya. Pagi itu, mungkin gue ga akan pernah tau kalau itu adalah pagi
yang indah
, kalau saja sang embun pada waktu itu tidak mendinginkan tenda yang gue tiduri. Spontan, gue terbangun karena dinginnya tenda sangat terasa. Untuk memastikannya, gue mencoba mengintip ke arah luar tenda. Wow, ini adalah Ranukumbolo yang orang-orang bicarakan. Pantas saja mereka membicarakannya, pantas saja mereka menginginkannya. Waktu, jangan cepat berlalu dulu, gue masih ingin menikmatinya. Boleh, yah?
Sayangnya, siang ini gue harus meninggalkan Ranukumbolo dulu untuk melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Lanjut, tenda dan logistik lainnya gue rapikan dulu. Pukul 11.00 WIB, setelah foto bareng, kami mulai berangkat.
Ranukumbolo - Oro Oro Ombo 30 menit
Oro Oro Ombo - Cemoro Kandang 30 menit
Cemoro Kandang - Jambangan 60 menit
Jambangan - Kalimati 60 menit
Sebelum tiba di Oro Oro Ombo, kita harus melewati Tanjakan Cinta. Di sini gue ga bahas mengenai apa itu Tanjakan Cinta. Sepertinya kalian yang lebih paham soal ini. Gue lebih memilih mengalah aja hehe. Oro Oro Ombo, ini memang sangat indah. Ini adalah salah satu
spot favorit.
Pukul 14.00 WIB, kami sudah tiba di Kalimati. Suhu pada siang itu lumayan dingin, padahal matahari sangat terik sekali. Masing-masing kami langsung membuka tenda. Di sini, kami akan bermalam 1 malam lagi. Rencanya, kami akan melakukan
summit atau muncak pada pukul 01.00 WIB dini hari nanti. Inilah ujian terberatnya dari pendakian gunung Semeru. Mereka pun juga mengatakan demikian. Semoga ini mudah. Mari kita lihat saja.
21 April 2017
Pukul 00.00 WIB, gue dan anggota kelompok lainnya sudah terbangun. Kami tau, ini malam yang berat untuk memulai menuju puncak
, tapi kami juga tersadar, perjalanan kami sudah terlampau jauh. Ini harus terus dilanjutkan, harus seperti itu. Sebagai modal untuk menyimpan energi lebih saat
summit nanti, kami melakukan makan bersama terlebih dahulu. Ini perlu. Pukul 01.20 WIB dini hari, kami awali
summit dengan berdoa bersama. Banyak harapan yang terucap di doa itu. Itulah doa, siapa pun boleh meminta lebih dan memperbanyaknya.
Kalo kalian yang sudah pernah mendaki gunung Semeru ini dan mengatakan bahwa gunung ini "berat", gue-lah orang pertama yang setuju. Yap, memang benar. Suhu dingin dan medan menanjak yang sangat sulit untuk dipijak, mengharuskan gue untuk mengatur nafas beberapa kali. Tapi, ini harus terus bergerak, walau kaki meminta untuk berhenti. Semakin ke atas, semakin sedikit jumlah pendaki yang ada di sekitar gue. Mungkin mereka masih berada di bawah, mungkin mereka sedang beristirahat dulu. Saat itu, gue yakin, puncak sudah sangat dekat. Yang benar saja, itu memang benar puncak ! Alhamdulillah. Tepat pukul 04.48 WIB, adalah awal pertama kali gue sentuhkan tangan ini di plakat puncak Mahameru. Dingin banget yang gue rasain. Kondisi sekitar masih terlihat gelap. Gue seneng, akhirnya gue bisa mengistirahatkan dengkul dan kawan-kawannya. Dikit demi sedikit, anggota kelompok yang lainnya mulai tiba. Alhamdulillah, kami bisa sampai di puncak bareng-bareng, semuanya muncak ! Ini adalah hal yang sempurna, di mana kita bisa mengawali pendakian bareng-bareng, nge-
camp sambil menikmati makanan yang kita masak bersama-sama, dan akhirnya bisa berada di puncak dengan tidak ada yang terlewat.
Sampai di sini, Alhamdulillah sebagian dari doa kami terkabulkan
. Itu memang sebagian, karena masih ada sebagian doa-doa kami lainnya yang harus kami usahakan. Yap, perjalanan pulang menuju rumah. Itu adalah hal yang utama. Berawal dari rumah dan harus kembali ke rumah. Sebagai bagian dari rencana, gue memilih untuk tidak bermalam lagi di Ranukumbolo. Jadi, setelah turun dari puncak dan Kalimati, gue langsung menuju Ranupani. di Ranukumbolo nanti, hanya sekedar beristirahat sebentar saja. Kemungkinan gue akan melakukan perjalanan malam sampai tiba di Ranupani.
Headlamp pun sudah gue siapkan. Jangan lupa
battery cadangannya juga. Perjalanan turun dari Kalimati diawali pada pukul 13.00 WIB.

Kondisi hujan yang lumayan lebat, sehingga membuat fisik dan keril pun semakin menjadi-jadi. Perjalanan turun semakin melambat. Ini gue maklumi, fisik yang sudah menurun, karena hampir seharian kami harus bergerak terus. Kopi dan beberapa cemilan menjadi pelengkap kami ketika berteduh di tiap-tiap pos. Kami berharap, ini bisa menjadi asupan yang baik. Semoga saja. Pukul 21.30 WIB, malam itu akhirnya kami tiba di Ranupani, Alhamdulillah. Perjalanan turun ini terasa sangat panjang. Bisa dibilang, malam yang panjang juga. Mungkin karena kondisi hujan. Ah, ga apa-apa, yang penting kami bisa bertemu dengan Ranupani kembali. Setelah bersih-bersih, tidak lama dari itu, kami beristirahat di sebuah aula yang berada di dekat pos simaksi Ranupani. Beruntungnya badan ini bisa tertidur pulas kembali, walau cuma di atas lantai yang tidak seempuk kasur di rumah dan tidak sehangat di kamar sendiri. Perlu disyukuri. Ayo, mata, mari kita tutup hari yang luar biasa ini.
22 April 2017
Pagi itu, saat gue terbangun, ternyata sudah banyak pendaki lain yang sedang sibuk menyiapkan barang bawaanya. Sepertinya mereka baru ingin mulai mendaki pagi ini. Gue pun juga demikian. Bedanya, gue akan kembali menuju Pasar Tumpang. Perjalanan dari Ranupani menuju Pasar Tumpang, kami menggunakan sebuah truk, yang kebetulan sedang ada. Truk yang kami bayar sesuai kesepakatan sebelumnya antara kami dengan si supir. Truk itu memang kebetulan akan menuju Pasar Tumpang. Untuk ikut dengannya, kami diharuskan membayar. Saat itu sekitar pukul 10.00 WIB. Dan, cerita pendakian ini gue akhiri di Pasar Tumpang. Selanjutnya, gue ingin menikmati "apa sih Malang itu ?".
Pendakian solo ini perlu gue syukuri. Bagaimana engga, ada banyak hal yang sudah memudahkan pendakian ini, salah satunya adalah dengan bertemunya rombongan pendaki dari Bogor. Mereka sangat berkontribusi besar di dalam cerita yang sedang gue tuliskan ini. Bukan hanya materil, tapi dengan hal yang lainnya juga. Untuk itu, inilah sebuah pendakian, dapat mengenal dengan orang-orang baru, yang kadang-kadang kita pikir itu tidak perlu, padahal ini memang perlu. Karena kita tidak pernah tau, kapan saja kita akan membutuhkan bantuan dari orang lain. Ini adalah Semeru, gunung yang besar, dengan cerita yang dibangun besar juga, yang gue bangun bersama orang-orang yang kuat dan paham bagaimana cara bersahabat yang baik. Satu hal yang sudah gue tuliskan di cerita dan pengalaman hidup gue, dan akan terus menjadi ingatan yang wajar sampai gue tidak ingin mengingatnya lagi, tapi sepertinya ga akan.
Salam,
Backpacker-Kere !
Budget :
Run Down :
=== 19 April 2017 ===
10.05 WIB Tiba di Stasiun Malang
10.30 WIB Menuju Pasar Tumpang by Angkot (2x transfer)
11.45 WIB Tiba di Pasar Tumpang
14.30 WIB Menuju Ranupani
16.00 WIB Tiba di Ranupani, lalu repacking & simaksi
16.40 WIB Start treking
Keren broo
ReplyDeleteThanks bro
DeleteWaktu ngurus simaksi ditanyain apa aja bro??
ReplyDeleteGa ditanya banyak bro, paling cuma logistik aja.
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteDamn artikel ini juara. Pas banget soalnya aku juga mau nyoba solo camp, tapi ke Ramu Kumbolo doang. Thanks a lot for the insight!
ReplyDeleteBtw ga perlu daftad online kah? Soalnya aku baca-baca, beberapa bilang kudu daftar online. Thank you.
DeleteTerima kasih mas. Semoga lancar ! :D
DeleteWaktu Juli 2017 lalu, saya daftar langsung di Ranupani gan, kalo memang sekarang sudah diharuskan daftar online, mungkin sudah berubah gan.
DeleteMas klo mendaki solo gitu gakpapa tanpa sewa guide gitu?
DeleteWaktu itu ane ga apa2 mas, yg penting perlengkapannya dilengkapi dan pernah mendaki sebelumnya. Coba aja dulu mas daftar online, kalo untuk personal masih bisa atau engga.
DeleteMantab bro .... kalau untuk solo hiking ... bookingnya apakah lancar ? ... mohon pencerahannya ... karena pertengahan oktober kepingin kesana juga ....
ReplyDeleteTerimakasih
Saya waktu itu ga booking online mas hehe
DeleteMas klo solo hiking gakpapa tanpa guide dri pihak pengelola semeru nya?
ReplyDeleteWaktu itu ane ga apa2 mas, yg penting perlengkapannya dilengkapi dan pernah mendaki sebelumnya. Coba aja dulu mas daftar online, kalo untuk personal masih bisa atau engga.
ReplyDelete