Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta


Akhirnya, pergi mendaki lagi...

Assalamualaikum, apa kabar? apakah masih sehat-sehat saja? semoga tetap begitu, Aamiin. Seperti yang kita ketahui, tahun 2020 sangat begitu beraneka warna, semerawut, dan campur aduk. Kesusahan dan segala kerumitan selalu betah bergelayutan hampir di setiap hari demi harinya. Tak terasa juga, sudah tujuh bulan lamanya kita berkutat pada kehidupan pandemi yang sangat menyiksa. Gue pribadi pun, tidak bisa bohong dan berpura-pura biasa saja. Nyatanya, hasrat ingin kembali ke hutan pun mulai menggebu-gebu. Sirene panggilan gunung pun sudah berdering-dering. Rasanya, ingin segera pergi mendaki, menghabiskan beberapa hari dengan berkegiatan di luar ruangan, dan meninggalkan sementara jenuhnya rutinitas pekerjaan yang itu-itu saja. Namun, di samping perasaan tadi, ada rasa cemas dan was-was juga. Apakah akan aman jika berkegiatan di luar rumah? Apakah akan berisiko jika rencana mendaki ini tetap dilakukan? Kita akui, kondisi dunia sekarang sudah tidak lagi sama seperti biasanya. Pola hidup dan kebiasaan sehari-hari pun sudah mulai berubah. Dengan segala pertimbangan yang sudah dipikir-pikir secara matang dan hati-hati, akhirnya gue bisa berani meyakinkan bahwa ini akan baik-baik saja apabila tetap dilakukan. Dan, yang terpenting, tidak lupa juga sambil disertai ikhtiar yang konsisten, salah satunya dengan cara selalu menerapkan protokol kesehatan. Itu wajib!

Rencana awalnya, gue hanya ingin pergi mendaki ke gunung-gunung yang berada di pulau Jawa saja, seperti Raung atau Argopuro. Namun, berhubung masih ditutupnya pendakian untuk kedua gunung tersebut (updated tanggal 1 Oktober 2020), terpaksa harus pindah arah haluan dan segera menentukan opsi lain. Pada saat itu, terlintaslah sebuah ide, "Apa ke gunung yang ada di luar pulau Jawa aja? Sumatera atau Sulawesi?". Singkat memilih, gunung Dempo-lah yang akhirnya gue pilih. Sebenarnya, ide dan rencana ini sudah tercetus sejak beberapa tahun silam, bahkan gunung Dempo ini sudah menjadi wish list yang gue buat sudah dari lama, hanya saja belum terlaksana, hehe. Jika ditanya, "Apa, sih, yang membuat gue tertarik pada gunung Dempo?". Simple saja, gue sangat penasaran dengan kawah indahnya, apalagi saat sedang mengeluarkan warna kebiru-biruannya. Itulah salah satu yang menjadi trigger gue ingin segera mengunjunginya, sekaligus juga ingin menyaksikannya secara langsung . Dan pada kesempatan kali ini, gue berusaha kerasa mencoba merealisasikannya. Mari gue ceritakan kembali cerita ini...
 
 
Berangkat dari Jakarta
 
Siang itu, hari Kamis, tanggal 8 Oktober 2020 sekitar pukul 09:30 WIB, gue sudah menginjakkan kaki di terminal Kalideres Jakarta Barat, setelah sebelumnya menggunakan kereta Commuter Line dari Depok. Saat setibanya di terminal, gue langsung membeli tiket bus Sinar Dempo tujuan Pagar Alam yang berada di loket nomor 12. Perlu dicatat juga, jadwal keberangkatan bus Sinar Dempo dari terminal Kalideres Jakarta pada pukul 11:00 WIB. Dan hanya ada 1 kali keberangkatan dalam sehari. Bagi yang belum tahu, gunung Dempo sendiri berada di perbatasan provinsi  Sumatera Selatan dan provinsi Bengkulu, tepatnya terletak di kota Pagar Alam, yang berjarak tempuh sekitar 7 jam dari kota Palembang dan sekitar 21 jam dari Jakarta via darat. Ada beberapa pilihan untuk mencapai kota Pagar Alam dari Jakarta, yaitu:
  1. Menggunakan pesawat terbang tujuan Palembang, kemudian dilanjutkan menuju kota Pagar Alam dengan menggunakan bus/travel rute Palembang-Pagar Alam.
  2. Menggunakan bus lintas Sumatera (Mis: Bus Sinar Dempo) dengan rute Jakarta-Lampung-Lahat-Pagar Alam, kemudian turun di pemberhentian terakhir yaitu di pool Pagar Alam.
Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Setelah tiket bus sudah di tangan, gue masih harus menunggu beberapa jam lagi di terminal, karena bus baru akan berangkat pada pukul 11:00 WIB, wkwk. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya bus tiba di terminal Kalideres. Ternyata bus ini sebelumnya berangkat dari terminal Kampung Rambutan, kemudian dilanjutkan ke terminal Kalideres. Bus mulai berangkat sekitar pukul 11:30 WIB, hmmm, ternyata ngaret. Beberapa makanan dan minuman sudah gue siapkan untuk selama perjalanan. Bayangin aja, perjalanan akan ditempuh dalam waktu 21 jam! Hahaha 😂

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Saat bus mulai bergerak ingin menuju pelabuhan Merak, tepatnya masih di sekitaran daerah Kalideres, tiba-tiba lalu-lintas menjadi stuck dan macet tidak karuan. Ternyata disebabkan oleh adanya ratusan bahkan ribuan para demonstran yang sedang melakukan long march, sehingga sampai bertumpah ke sepanjang jalan. Gue pun baru ingat, ternyata hari ini memang akan ada aksi unjuk rasa besar-besaran yang dilakukan oleh para kelompok mahasiswa dan para buruh pekerja terkait penolakan UU Cipta Kerja yang menuai banyak kontroversi. Setelah hampir 2 jam lamanya bergelut dengan semerawutnya kondisi jalanan pada saat itu, akhirnya kondisi lalu-lintas kembali normal dan bus pun dapat melaju cepat menuju pelabuhan Merak.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta




Pelabuhan Merak - Pelabuhan Bakauheni - Kota Pagar Alam

Sore itu pukul 15:30 WIB, bus sudah tiba di pelabuhan Merak, tapi bus masih harus menunggu sekitar 20 menit lagi untuk masuk (loading) ke dalam kapal. Sore itu, kondisi pelabuhan terlihat cukup sepi. Tidak begitu banyak kendaraan umum maupun kendaraan pribadi yang tengah berlalu-lalang, bahkan antrean kendaraan pun juga tidak sampai padat merayap seperti pada penampakan yang sudah-sudah. Bisa jadi karena hari ini bukan hari weekend, atau bisa juga karena efek pandemi? Hmmm. Tak terasa menunggu, bus dan beberapa kendaraan lainnya mulai bergerak antre loading masuk ke dalam lambung kapal.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Saat sudah berada di dalam kapal, gue cukup menikmati keadaan sekitar. Menurut gue, kondisi yang ada di lingkungan kapal dan fasilitas umum yang disediakan saat ini sudah jauh lebih baik ketimbang sebelumnya. Mungkin ini salah satu bentuk transformasi yang dilakukan oleh pihak ASDP. Keren! Sambil menunggu kapal berangkat, gue memesan makanan dan minuman di salah satu kantin yang berada di dek atas. Menurut info dari petugas penjaga kantin, kapal ini termasuk kelas eksekutif, sehingga durasi lama perjalanan pun hanya ditempuh sekitar 1 jam 45 menit saja. Mantap! Sesaat kemudian, kapal mulai bertolak dari pelabuhan Merak pada pukul 16:36 WIB. Seperti yang dikatakan oleh petugas penjaga kantin tadi, kapal ini memang melaju sangat cepat. Rasa mual dan keinginan untuk mabok laut pun sama sekali tidak terasa. Seiring cuaca yang cerah dan kondisi gelombang laut yang stabil, sekitar pukul 18:00 WIB kapal berhasil berlabuh mulus di titik paling ujung selatan pulau Sumatera. Perjalanan darat pun dilanjutkan kembali. Bismillahirrahmannirrahiim.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Saat memasuki wilayah Lampung Selatan, kondisi lalu-lintas terpantau sepi dan lancar. Sangat sepi dan hampir tidak ada kendaraan lain sama sekali. Seiring perut yang sudah mulai lapar, sekitar pukul 19:00 WIB bus mulai menepi ke rumah makan yang berada di daerah Kalianda, Lampung Selatan. Alhamdulillah, bisa isi perut dulu sambil menikmati udara malam sekitar. Jika dilihat, rumah makan di sini pun juga tidak begitu ramai pengunjung, hanya diisi oleh kami saja para penumpang bus, hmmmm. Selang 30 menit kemudian, perjalanan dilanjutkan kembali. Bismillahirrahmannirrahiim.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Menurut info dari petugas kernet bus, perkiraan tiba di Pagar Alam itu besok sekitar pukul 08:00 WIB pagi. Yang awalnya menyikapinya dengan biasa-biasa saja, tapi makin ke sini makin penat juga. Tidur pun juga tidak bisa pulas dan nyaman. Sendi dan seluruh tulang mulai memberikan sinyal pegal-pegal. Sesekali berhasil memejamkan mata sebentar. Sesekali juga sambil mengamati gerak titik navigasi google map perjalanan, walaupun  rasanya tidak ada perubahan yang signifikan dan  masih di situ-situ saja. Tidak ada yang gue inginkan saat itu, selain ingin segera cepat-cepat tiba di tempat tujuan, Zzzz. Jam demi jam berlalu, hari sudah terang, dan saat itu bus sudah memasuki daerah Lahat. Sepertinya, titik pemberhentian terakhir sudah tidak lama lagi tiba. Semoga begitu, karena kepala rasanya sudah berat sekali, mual pun sudah melekat dari tadi. Jumat, 9 Oktober 2020, sekitar pukul 08:30 WIB, bus pun akhirnya tiba di pool pemberhentian terakhir yang berada di kota Pagar Alam. Alhamdulillah, perjalanan selama 21 jam dapat terselesaikan juga, wkwkwk.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Oh, iya, di pendakian gunung Dempo kali ini, gue ditemani oleh seorang kawan baru yang bernama Bang Dekki. Bang Dekki adalah seorang penduduk asli Pagar Alam. Bisa dibilang, dia adalah salah satu anggota dari kelompok pendaki yang ada di gunung Dempo. Informasi dan kontak Bang Dekki pun gue dapat dari hasil penelusuran di internet alias browsing-browsing. Itulah awal mula perkenalan kami, wkwkwk. Seperti yang sudah kami bicarakan dan rencanakan sebelumnya, tidak lama setelah bus merapat di pool pemberhentian terakhir, kemudian gue langsung diantar oleh Bang Dekki menuju rumah Pakde Daryono dengan menggunakan sepeda motor miliknya. Pakde Daryono adalah salah satu anggota Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) gunung Dempo. Bagi yang sering atau pernah ke gunung Dempo, pasti tidak asing dengan Pakde Daryono. Meskipun sudah tidak muda lagi, namun hingga saat ini beliau masih sangat aktif di dunia pendakian. Tidak sedikit juga kelompok-kelompok pendaki yang berasal dari luar Pagar Alam yang masih menggunakan jasa beliau. Setibanya di rumah Pakde Daryono, kemudian kami langsung merapikan packing alat dan logistik yang akan dibawa untuk pendakian.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta




Basecamp Kampung IV - Shelter 1

Basecamp Kampung IV - Karena cuaca pada saat itu sudah mendung dan hari sudah semakin siang, kemudian kami langsung bergegas menuju basecamp Kampung IV. Kampung IV adalah satu di antara jalur pendakian yang ada di gunung Dempo, setelah jalur Tugu Rimau. Biasanya para pendaki lebih prefer melalui jalur Kampung IV ketimbang melalui jalur Tugu Rimau. Sebelum tiba di basecamp Kampung IV, gue pun disuguhkan oleh pemandangan indah dari hamparan perkebunan teh yang luas dan hijau. Begitu juga dengan jalanannya yang berlika-liku bak jalanan yang ada di puncak Bogor, wkwk. 

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Sekitar pukul 10:30 WIB, kami tiba di basecamp Kampung IV seiring baru turunnya hujan pada saat itu. Basecamp di sini cukup besar dan terdapat warung juga di dalamnya, sama seperti kebanyakan basecamp pada umumnya. Sambil menunggu hujan reda, gue berbincang-bincang perkenalan singkat dengan beberapa pendaki lain yang ingin melakukan pendakian juga. Jam demi jam berlalu dan hujan masih saja mengguyuri. Saat jam sudah menunjukkan pukul 11:50 WIB, gue teringat, bahwa hari ini adalah hari Jumat dan waktunya untuk shalat Jumat. Kemudian kami pun melaksanakan shalat Jumat terlebih dahulu di salah satu masjid yang berada di belakang basecamp, dengan harapan hujan akan berhenti setelah kami melaksanakan shalat, hehehe.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Pintu Rimba - Seusai shalat Jumat, hujan lumayan mereda, dan kami memutusakan untuk memulai pendakian. Kami bergerak dari basecamp Kampung IV sekitar pukul 13:00 WIB. Jika melihat dari peta jalur pendakian gunung Dempo via jalur Kampung IV, titik check point setelah basecamp Kampung IV yaitu Pintu Rimba, yang dapat dicapai kurang lebih sekitar 30-40 menit. Kontur jalur pendakian selepas basecamp masih berupa aspal. Kurang lebih sekitar 300 meter menyusuri jalan beraspal tadi, kemudian akan ditemui pada sebuah kebun teh di sisi sebelah kanan jalan. Melalui kebun teh inilah yang akan mengarahkan ke jalur menuju Pintu Rimba. Kondisi jalur masih belum begitu berat dan terjal. Sekitar pukul 13:33 WIB, kami tiba di Pintu Rimba. Saat kami baru tiba di Pintu Rimba, ternyata sudah ada beberapa kelompok pendaki lain yang sedang beristirahat juga. Kami kira, mereka sedang melakukan pendakian turun, ternyata tidak. Rupanya, awalnya mereka baru ingin melakukan pendakian naik juga. Namun, saat pendakian belum sempat sampai shelter atas, kemudian mereka putar balik dengan alasan kondisi cuaca yang kurang baik, yaitu hujan deras. Hmmm, separah itu kah sampai mereka tidak melanjutkan pendakian? Sambil beristirahat sebentar, sapa perkenalan pun berlangsung di antara kami satu sama lain, dan setelahnya tidak lupa juga untuk mendokumentasikan perjumpaan kami, hehehe.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Shelter 1 - Tidak lama dari itu, sekitar pukul 13:50 WIB, pendakian kami lanjutkan kembali. Saat baru mulai melanjutkan perjalanan, tiba-tiba turun hujan yang cukup deras. Rain coat pun mulai kami kenakan. Sepertinya ini akan menjadi pendakian yang menguras fisik dan menguji mental. Jalur dari Pintu Rimba menuju Shelter 1 masih belum banyak ditemui jalur yang menanjak curam dan terjal, bahkan sesekali terdapat jalur yang menurun. Kondisi fisik pada saat itu terasa sangat terkuras sekali, dan langkah pun sudah terayun berat, padahal ini baru permulaan. Maklum, fisik sudah terkuras duluan selama di perjalanan berangkat, wkwk. Rasanya ingin cepat-cepat segera tiba di Shelter 1, mengisi perut yang sedang lapar-laparnya, dan me-recharge sebentar tenaga yang sudah hampir habis. Kurang lebih sekitar pukul 15:10 WIB, kami tiba di Shelter 1. Area di Shelter 1 ini tidak begitu luas. Di sini terdapat sebuah pondokan kecil yang terbuat dari rangkaian kayu, yang biasanya dimanfaatkan para pendaki untuk sekadar beristirahat atau berteduh di kala hujan. Di Shelter 1 ini terdapat sumber mata airnya juga.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta




Shelter 1 - Shelter 2

Dinding Lemari - Seusai makan dan beristirahat, pendakian kami lanjutkan kembali. Waktu pada saat itu menunjukkan pukul 15:40 WIB dan hujan pun masih saja mengguyuri kami. Titik berikutnya adalah Dinding Lemari. Dinding Lemari sendiri merupakan sebuah tanjakan yang menjulang terjal dan berwujud berdiri tegak terjal layaknya sebuah dinding lemari. Karena itulah disebut dengan "Dinding Lemari". Apakah seterjal itu? Hmmm, ada-ada saja. Sekitar pukul 17:00 WIB, akhirnya kami tiba di Dinding Lemari. Sekilas, tanjakan ini mirip seperti Tanjakan Setan yang ada di gunung Gede. Dengan tingkat kemiringan hampir 90∘⃘⃘⃘, diperlukan bantuan tali webbing untuk memanjatnya. Sebenarnya, tidak begitu sulit dilakukan, namun tetap harus berhati-hati saja.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Shelter 2 - Untuk mempersingkat waktu, pendakian langsung kami lanjutkan kembali seiring hari yang mulai berganti menjadi malam. Saat menuju Shellter 2, jalur pendakian menjadi lebih curam dan ekstrim. Jalur sudah didominasi oleh vegetasi akar-akar besar yang menjulang dan melintang, sehingga kedua tangan pun harus dikerahkan juga. Selangkah dua langkah, lalu berhenti, dan seterusnya begitu. Karena kondisi hujan yang tak kunjung reda, membuat kontur jalur pendakian menjadi basah dan berlumpur. Tidak hanya basah, sepatu dan pakaian lainnya pun juga sudah berlumar lumpur dan tanah. Sekitar pukul 18:25 WIB, akhirnya kami tiba di Shelter 2. Segera meluruskan kaki sejenak sambil ditemani beberapa cemilan ringan.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta


Shelter 2 - Pelataran (camp area)

Cadas - Semakin lama kami diam beristirahat, semakin dingin juga kondisi tubuh, sehingga mengharuskan kami untuk segera melanjutkan pendakian. Titik berikutnya adalah Cadas. Menurut penjelasan dari Bang Dekki, Cadas sendiri merupakan area yang lumayan terbuka, di mana tidak begitu banyak adanya pepohonan di sekitar jalur, oleh sebab itu suhu di sana terbilang lebih dingin. Jadi, sebaiknya tidak disarankan untuk beristirahat lama-lama di sana. Gue mengira, sepertinya jalur sudah mulai bersahabat, nyatanya masih sama saja menyiksa seperti yang sudah-sudah, wkwkwk. Langkah demi langkah berat dipijakkan, akhirnya kami tiba di Cadas pada pukul 20:10 WIB. Benar kata Bang Dekki, suhu di sini terasa sangat dingin sekali. Tidak kuat berlama-lama, kami pun melanjutkan pergerakan kembali. Brrrrrzzz.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Top Dempo - Beberapa menit setelah melanjutkan pendakian, kontur jalur sudah mulai didominasi oleh bebatuan kecil sedang, juga sudah tidak ada lagi pohon yang menjulang tinggi seperti yang ada di shelter-shelter sebelumnya, dan beberapa kali juga sudah terdapat banyak tanaman cantigi di sekeliling. Biasanya ini adalah sebuah pertanda bahwa puncak sudah sebentar lagi. Dengan semangat ingin segera cepat-cepat tiba di puncak, pergerakan kami percepat, dan kebetulan juga hujan sudah tidak lagi mengiringi kami pada saat itu. Sekitar pada pukul 21:30 WIB, Alhamdulillah, kami tiba di Top Dempo. Sekilas, Top Dempo ini mirip dengan puncak gunung Pangrango. Mari sejenak luruskan kaki dan dengkul dulu, wkwkwk.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Pelataran (camp area) - Titik berikutnya adalah Pelataran. Seperti namanya, Pelataran adalah sebuah camp area lapang yang luas. Yang biasanya dijadikan sebagai tempat bermalam oleh para pendaki sebelum melanjutkan ke puncak Merapi, puncak yang terkenal dengan keindahan kawahnya. Saking luasnya area ini, sehingga dapat diisi oleh puluhan tenda, loh! Mirip banget dengan Alun-alun Surya Kencana gunung Gede. Yang menjadi nilai tambahnya lagi adalah banyaknya sumber mata air yang terdapat di lokasi ini. Untuk menuju Pelataran dari Top Dempo, tidak begitu jauh lagi, tinggal turun menyusuri jalur yang ada, kurang lebih sekitar 15-20 menit saja. Alhamdulillah, sekitar pukul 21:55 WIB, kami tiba di Pelataran. Tak mau berlama-lama lagi, tenda pun segera kami dirikan. Rasanya ingin cepat-cepat mengistirahatkan tubuh dan kawan-kawannya. Setelah tenda sudah didirikan, kami mulai menyiapkan makanan untuk makan malam. Hari pada malam itu lumayan cerah berbintang, tapi sayang, mata rasanya ingin segera cepat-cepat dipejamkan. Hari yang luar biasa ini, gue tutup dengan tidur pulas pada pukul 23:30 WIB. Mari lekas recovery tenaga untuk hari esok.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta


Summit Puncak Merapi

Sabtu, 10 Oktober 2020 pukul 05:40 WIB, dinginnya tenda membangunkan tidur pulas gue di pagi hari itu, dan disertai juga dengan sapaan Bang Dekki dari tenda seberang, "Bang Adam, sudah bangun kah?". Kami rencananya akan melakukan summit sekitar pukul 07:00 WIB, dan sejak awal pun kami memang tidak berniat untuk mengejar sunrise, heheh. Dengan rasa kantuk yang masih tersisa, gue coba membuat sarapan pengganjal sambil diselingi menyiapkan perlengkapan apa saja yang akan dibawa untuk summit. Saat summit nanti, Bang Dekki menyarankan sebaiknya tetap ada orang yang standby menjaga tenda. Hal itu tidak lain karena untuk berjaga-jaga terjadinya hal yang tidak diinginkan. Menurut ceritanya, di sini pernah terjadi kasus kehilangan barang ketika tenda ditinggal summit. Jadi, sebelum kami pergi summit, kami sudah meminta bantuan kepada rombongan pendaki lain yang berada bersebelahan dengan kami untuk bergantian standby berjaga di tenda.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Sekitar pukul 06:30 WIB, kami mulai mengawali langkah summit menuju puncak Merapi. Jika dilihat dari Pelataran, sebenarnya puncak Merapi sudah terlihat jelas, dan jika dikira-kira pun sepertinya puncak sudah tidak begitu jauh lagi. Menurut Bang Dekki, estimasi sampai tiba di puncak biasanya memakan waktu 20-30 menit. Jalur menuju puncak didominasi oleh track bebatuan sedang hingga besar, tingkat kemiringannya tidak begitu curam, hanya saja konsisten terus menanjak. Di samping itu, tetap harus fokus dan berhati pada tiap langkah demi langkah, karena beberapa kali sering adanya bebatuan yang datang dari arah atas. Dengan napas yang semakin terengah-engah, kemudian semakin membawa kami pada sebuah titik akhir jalur pendakian. Alhamdulillah, ternyata itu adalah puncak! Kami tiba di puncak sekitar pukul 07:04 WIB. Cuaca pada saat itu terpantau cerah dan si kawah pun tidak malu menampakkan keindahannya. Inilah kawah yang gue impikan sejak dulu, yaitu kawah yang berwarna biru kontras yang sangat memanjakan mata. Ini adalah kawah yang paling cantik yang pernah gue temuin. Mari kita dokumentasikan!

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Berhubung cuaca yang sudah mulai mendung dan berkabut, pada pukul 08:00 WIB, kami mulai meninggalkan puncak dan kembali ke Pelataran. Setelah 20 menit kemudian, kami sudah tiba di Pelataran dan segera bergegas membuat beberapa makanan sebagai asupan energi untuk melanjutkan perjalanan turun nanti. Berhubung jadwal kepulangan gue besok menggunakan pesawat dari Palembang, jadi kami berencana kembali turun sebelum jam 12 siang agar tidak terlalu sore tiba di basecamp, karena rencananya nanti malam gue akan melanjutkan ke Palembang dengan menggunakan bus.

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta



Camp Pelataran - Basecamp Kampung IV - Rumah Pakde Daryono

Pada pukul 10:30 WIB, kami mulai kembali turun menuju basecamp. Cuaca pada saat itu kembali turun hujan seperti hari kemarin, dan lagi-lagi kami harus mengenakan rain coat! pfft! Selama perjalanan turun, bukannya mereda, justru hujan semakin mengguyur deras. Jalur pendakian pun sudah tidak berwujud lagi, karena semuanya sudah dipenuhi oleh lumpur dan derasnya air hujan yang mengalir. Kondisi pakian sudah tidak karuan lagi, celana basah, dan sepatu pun jebol, wkwk. Setelah berjuang dengan kondisi medan yang sangat menyiksa, Alhamdulillah, sekitar pada pukul 16:00 WIB kami sudah tiba di basecamp Kampung IV. Alhamdulillah, bisa kembali ke tempat ini lagi. Mari kita rehat sejenak sambil menghangatkan tubuh dengan secangkir teh hangat, wkwk.
 
Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta


Seusai menikmati secangkir teh hangat dan sepiring nasi goreng, gue dan Bang Dekki kembali melanjutkan ke rumah Pakde Daryono. Hari sudah mulai petang pada saat itu. Sesampainya di rumah Pakde Daryono, kemudian gue langsung bersih-bersih dan me-repack kembali barang-barang bawaan sambil bercerita tentang selama pendakian kemarin dan hari ini kepada Bude (Istri Pakde Daryono). Rupanya, bukan hanya Pakde Daryono saja yang sangat welcome atas kedatangan gue, begitu juga dengan istrinya, Bude. Bahkan, beliau pun terlihat sangat antusias melakukan percakapan selama gue berada di sana. Di samping itu, beliau juga hobby menyuguhkan beberapa makanan buatannya, yaitu cireng dan cilok khas Pagar Alam, wkwkwk. Terima kasih, Bude 😁


Kembali pulang ke Jakarta

Pukul 20:00 WIB selepas berpamitan dengan keluarga Pakde Daryono, kemudian gue langsung diantar oleh Bang Dekki menuju pool bus Sinar Dempo. Selang beberapa belas menit perjalanan menggunakan motor, gue sudah tiba di pool tersebut. Seusai berpamitan dengan Bang Dekki, kemudian gue langsung menuju loket untuk membeli tiket bus tujuan ke Palembang. Kebetulan pada saat itu, jadwal keberangkatan bus terakhir yang menuju Palembang tersedia pukul 21:00 WIB. Setelah lumayan lama menunggu, bus pun mulai berangkat pada pukul 21:20 WIB. Saatnya memejamkan mata dan merehatkan badan sebentar, karena estimasi lama perjalanan sekitar 6 jam. Lumayan, kan.

Minggu, 11 Oktober 2020 pukul 04:30 WIB, bus sudah menepi di salah satu daerah yang berada di Palembang. Walaupun hari itu masih terbilang sangat pagi buta, ternyata sudah banyak tukang ojek motor yang sedang standby menunggu para calon penumpang. Setelah sepakat nego tarif antarnya, kemudian gue langsung bergerak menuju bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Sebenarnya, ini bukan kali pertama gue menginjakkan kaki di kota Palembang, namun untuk kunjungan kali ini terasa sangat berbeda. Selama di perjalanan menuju bandara, gue melihat wajah kota Palembang yang kini sudah mengalami banyak perubahan. Hal ini terlihat karena sudah banyak perkembangan dan kemajuan yang dihasilkan dari kota pempek ini. Mantap!

Setelah 30 menit lama perjalanan menggunakan ojek motor, akhirnya gue tiba di bandara. Berhubung hari masih sangat pagi dan counter check-in pun belum dibuka, terpaksa masih harus menunggu beberapa jam dulu. Daripada gabut, lebih baik gue manfaatkan untuk tidur sejenak di area sekitaran bandara, wkwkwk. Jam demi jam berlalu, tak terasa waktu take-off pun sudah tiba. Saat pesawat mulai lepas landas dari tanah kota Palembang, saat itu juga catatan perjalanan ini gue akhiri sampai di sini. Terima kasih untuk gunung Dempo yang telah memberi pengalaman dan segala keindahannya, terima kasih untuk Bang Dekki yang telah mendukung dan banyak membantu selama pendakian, terima kasih untuk Pakde Daryono beserta keluarga atas perkenalan dan jamuan hangatnya, dan juga terima kasih untuk para pendaki gunung Dempo yang ikut serta dalam pendakian kali ini, cerita ini akan selalu kita kenang. See you on top !

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta






Rundown & Budget :

Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta


Solo Trip : Catatan Pendakian Gunung Dempo dari Jakarta





Share this:

ABOUT THE AUTHOR

"Terima kasih sudah mampir dan membacanya, semoga bermanfaat, tertarik, dan dapat meninggalkan pesan ataupun pertanyaan pada kolom komentar."

2 komentar:

  1. Wah mas berarti kita selisih di trek,saya naik mas nya turun,kebetulan banget pak de Daryono ngeguade rombongan saya bareng receh outdoor,bg Deki itu yg sebulan sebelum nya ikut rombongan Rikas Harsa ya,duh sayang banget mungkin saya gak focus pas ketemu di trek,jadi nggak ngenalin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, iya saya inget tuh pas turun ketemu rombongan yg rame banget wkwk. Padahal saya sempet ketemu Pakde Daryono dan ngobrol-ngobrol sebentar waktu ketemu di pas turun itu hehe.

      Delete