AKAN DATANG satu waktu, tubuh rentan yang sudah tidak kuat melakukan apa-apa dan helaian rambut yang sudah berubah warna. Di depan teras rumah, duduk bersandar nyaman pada sebuah kursi sederhana, senyum merekah saat membongkar arsip cerita lama tentang masa-masa muda yang kaya akan kisah-kisah.
Menua bersama secarik cerita. Potongan kalimat itulah yang sampai saat ini masih menjadi
gue dalam mengarungi masa-masa muda. Akan ada banyak hal yang dapat diwariskan pada masa tua nanti, salah satunya yaitu mengulas kembali kumpulan cerita-cerita yang pernah terjadi di waktu lampau. Dan hari ini adalah giliran waktunya untuk menuliskan ulang cerita yang telah terjadi kemarin. Menulis kembali perjalanan waktu lalu,
Pada pendakian kali ini, gue berharap sebisa mungkin tidak dilakukan seorang diri/solo, karena mengingat ini adalah gunung yang berat, juga
ditambah lama pendakiannya bisa memakan waktu sampai 3 hari 2 malam, bahkan bisa lebih. Sangat
kebayang kalo dilakukan solo, yang harus memanggul seluruh beban logistik sendirian.
Ga ada teman ngobrol juga. Nyiksa! Pasti garing. Sebagai bagian dari rangkaian
persiapan, rundown dan perencanaan lainnya mulai gue susun dan siapkan,
begitu juga dengan perlengkapan-perlengkapannya. Yang menjadi prioritas, tentunya
jangan lupa ajak teman buat join juga, wkwkwk.
TIGA MINGGU SEBELUM HARI H - Salah satu contoh kronis yang
dimiliki oleh orang Indonesia; Tiga minggu sebelum keberangkatan sudah fix menentukan
jumlah personel yang akan berangkat, yakni 3 orang (Gue, Si A, dan Si B).
Namun, pada saat mendekati hari H, tiba-tiba berubah dan ga seperti yang sudah
direncanakan. Nyatanya, realita masih jauh dari ekspektasi. Dua orang
teman gue, memutuskan cancel karena satu dan lain hal. Lagi-lagi gue melakukan pendakian
sendirian alias solo hiking! Bingung harus menyusun strategi seperti
apa. Sempat ga yakin juga apakah bakal sanggup. Tapi, jika ditanya apakah siap,
tentunya sangat siap. Sepertinya ini tetap akan berjalan dengan baik dan akan
menjadi cerita yang luar biasa. Bismillahirrahmanirrahim.
Sore itu, sepulang kerja, gue langsung bertolak menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Gue memilih menggunakan transportasi udara, dengan tujuan agar bisa memangkas waktu perjalanan yang lebih singkat ketimbang menggunakan transportasi darat. Berhubung jalur yang gue pilih adalah via Tretes dan dengan mempertimbangkan jadwal penerbangan juga, gue memilih Surabaya sebagai titik pijakkan pertama gue. Sesampainya di Bandara Juanda Surabaya, kemudian dilanjutkan menuju terminal Purabaya dengan menggunakan bus Damri, lalu dilanjutkan kembali menuju terminal Pasar Buah Pandaan dengan menggunakan bus jurusan Arjosari Malang. Setibanya di terminal Pasar Buah Pandaan, lalu menuju basecamp/pos daftar Tretes dengan menggunakan angkot atau ojek motor. Sebagai patokannya, turunlah di seberang Hotel Tanjung. Berikutnya, akan gue detailkan satu per satu.
BANDARA HALIM PERDANA KUSUMA - Rabu, 20 November 2019 pada pukul 19.00 WIB, tepatnya sekitar 1 jam sebelum
take-off, gue sudah berada di Bandara Halim Perdana Kusuma. Setelah sebelumnya menggunakan ojek
online dari tempat kerja gue yang berada di daerah Jakarta Pusat. Mudahnya untuk menuju Bandara Halim Perdana Kusuma, sudah terdapat banyak pilihan transportasi, mulai dari Busway, kereta Commuter Line (turun di stasiun Cawang), hingga ojek
online. Seusai menunggu di bandara 1 jam lamanya, pesawat pun mulai lepas landas meninggalkan Jakarta. Waktunya istirahatin mata sebentar, hehe.
BANDARA INTERNASIONAL JUANDA - Kurang lebih lama penerbangan sekitar 1 jam 30 menit, pada pukul 21.40 WIB, pesawat sudah
landing di Bandara Juanda Internasional Surabaya. Sesuai dengan
plan yang gue buat, setelah tiba di bandara Juanda, kemudian dilanjutkan menuju terminal Purabaya dengan menggunakan bus Damri. Ada beberapa pilihan transportasi untuk menuju terminal Purabaya. Namun, bus Damri-lah yang paling murah. Menurut informasi yang gue dapat, jadwal keberangkatan terakhir bus Damri dari bandara Juanda ke terminal Purabaya pada pukul 22.00 WIB. Oleh karena itu gue langsung bergegas menuju loket sebelum ketinggalan bus, wkwk. Dan,
alhamdulillah, masih kedapatan bus yang ke terminal Purabaya. Bus mulai berangkat pada pukul 21.50 WIB.
TERMINAL PURABAYA - Tidak sampai 30 menit perjalanan, bus Damri sudah tiba di terminal Purabaya, tepatnya pada pukul 22.20 WIB. Walau sudah terbilang malam, tapi masih banyak saja orang-orang yang tengah berlalu-lalang. Wajar, terminal ini termasuk salah satu terminal bus yang paling besar dan sibuk di pulau Jawa. Jika ditanya soal keamanan dan kenyamanannya, ga usah diragukan lagi. Kalo boleh curhat, terminal ini tidak lagi seperti pada waktu gue berkunjung dulu. Di mana waktu dulu masih maraknya calo-calo yang berkeliaran dan tingginya tingkat pelaku tindak kriminal. Namun, tetap jaga diri dan jangan lengah, terutama terhadap barang-barang bawaan. Malam itu, gue sempatkan makan malam di salah satu warung makan yang berada di dalam terminal, sembari ngobrol-ngobrol dengan si Ibu pemilik warungnya, hehe.
Setelah ini, gue harus melanjutkan ke terminal Pasar Buah Pandaan dengan menggunakan bus jurusan Arjosari Malang. Mengingat waktu sekarang sudah terlalu malam, salah seorang Ibu pemilik warung makan menyarankan gue untuk bermalam di sini dulu saja, lalu dilanjutkan pada subuh nanti. Hal itu tidak lain karena mempertimbangkan keamanan jika bermalam di terminal Pandaan. Katanya, di sana sih sepi kalau tengah malam. Bagi yang ingin bermalam di terminal Purabaya, ternyata memang sudah banyak disediakan tempat-tempat khusus untuk bermalam. Tempat ini juga dijaga 24 jam oleh petugas keamanan setempat. Sambil menunggu, lumayan, masih bisa mengistirahatkan badan sebelum melanjutkan perjalanan.
Terminal Purabaya - Pos Registrasi Tretes
Kamis, 21 November 2019 pukul 03.50 WIB, perjalanan dilanjutkan kembali menuju terminal Pandaan dengan menggunakan bus Restu Panda. Dari informasi yang sudah gue dapat sebelumnya, bus Restu Panda salah satu bus yang beroperasi hampir 24 jam. Bus ini berada di jalur/
platform patas nomor 8 atau 9. Subuh itu, bus sudah mulai bertolak dari terminal Purabaya. Sebelum melanjutkan tidur, gue sudah menitipkan pesan ke petugas kernet bus bahwa gue akan turun di terminal Pandaan. Supaya ga terlewat, hehe.
Pukul 05.30 WIB, bus sudah menepi di terminal Pandaan. Rupanya, terminal ini ga seperti terminal-terminal bus pada umumnya, yang notabene-nya besar dan ramai. Terminal ini sepintas seperti sebuah
shelter/tempat pemberhentian bus sementara, yang tidak terlalu besar dan terbilang sepi juga. Atau mungkin karena masih pagi, hehe. Setelah ini, dilanjutkan menuju pos perizinan Tretes menggunakan angkot atau ojek motor. Karena masih terbilang pagi, nampaknya belum ada tanda-tanda angkot yang sedang berlalu-lalang. Dan kebetulan juga, di waktu yang sama dari seberang jalan ada salah seorang bapak-bapak yang menawarkan untuk mengantarkan ke pos perizinan Tretes. Sepertinya, bapak itu memang tukang ojek motor, hehe. Setelah
deal bernegosiasi tarif antarnya, tidak lama dari itu, kami pun berangkat. Selama perjalanan, jalur terus menanjak seperti jalur puncak yang ada di Bogor, hehe.
Kurang lebih sekitar 30 menit lama perjalan menggunakan ojek motor, kami tiba di pos perizinan Tretes. Seperti yang sering diinfokan, pos perizinan Tretes ini berada di seberang hotel Tanjung Plaza. Pos ini masih sepi, bahkan belum ada satupun orang atau pendaki. Menurut keterangan dari Ibu penjaga warung yang berada di sekitar sana, pos pendakian mulai dibuka pada pukul 08.00 WIB. Sambil menunggu waktu buka, gue manfaatkan untuk memerikasa kembali kelengkapan-kelengkapan logistik pendakian, repacking, dan sarapan juga, hehe.
Pos Registrasi Tretes - Pos 1 Pet Bocor
Perlu diketahui, jika ingin mendaki gunung
Arjuno & Welirang, khususnya jalur Tretes, bagi para calon pendaki diwajibkan mendaftar
online di situs resminya,
klik di sini. Sebaiknya, daftarlah maksimal 7 hari sebelum pendakian. Pada halaman registrasi pun, ada beberapa tata tertib dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon pendaki, salah satunya yaitu wajib menyertakan surat keterangan sehat dari dokter. Menyikapi hal ini, gue sangat setuju, sehingga bagi para calon pendaki menjadi benar-benar lebih
aware dan terkontrol mengenai apa-apa saja yang sepatutnya perlu diperhatikan dan dipatuhi perihal pendakian. Ini tidak lain karena bertujuan untuk meminimalisir risiko kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dalam pendakian.
Pada pukul 08.20 WIB, pendakian gue awali dari pos registrasi menuju Pos 1 Pet Bocor. Awal jalur pendakian, masih berupa
paving block yang tertata rapih. Nampaknya, jalur ini masih terbilang jelas, cukup dengan mengikuti tatanannya saja. Jalur ini terus menanjak sedang, namun panjang. Dan pada pukul 08.55 WIB, gue sudah tiba di Pos 1 Pet Bocor. Hanya ada beberapa orang saja ketika gue tiba di sana. Ternyata, Pos 1 Pet Bocor ini merupakan pos registrasi yang sebenarnya. Pos ini dihuni oleh petugas Tahura Raden Soerjo, sekaligus juga yang mengurus segala bentuk perizinan pendakian. Di sini, kita wajib melapor terlebih dahulu dan menyerahkan bukti
print-out yang didapat setelah melakukan registrasi
online sebelumnya.
Pada saat registrasi ulang, sempat terjadi sedikit kendala. Menurut pernyataan petugas yang ada di sana, terdapat aturan bahwa tidak diperbolehkannya melakukan pendakian seorang diri atau tidak berkelompok. Setelah berdiskusi, disarankan agar menunggu rombongan pendaki yang lain saja, agar bisa join melakukan pendakian bersama-sama. Dan sekarang, mau tidak mau gue harus menunggu dulu sampai ada rombongan pendaki lain yang datang. Mudah-mudahan, ada.
Tidak lama dari itu, datanglah 2 orang pendaki, kemudian bertanya pada gue, "Sendirian aja mas? mau ikut bareng kita aja ga? Kebetulan, kita rencananya mau numpang pakai mobil hardtop sampai Pondokan. Paling nanti minta patungan uang rokok buat driver-nya, hehe". Dengan antusias, gue menerima ajakannya, "Oh, boleh mas, saya mau. Kebetulan banget nih, saya juga sendirian, hehe". Sebuah keberuntungan yang entah datang dari mana, yang pasti inilah yang disebut dengan "Di mana ada niat, di situ ada jalan", hehe. Dua orang pendaki tersebut bernama Mas Harwis dan Pak Mano. Mas Harwis merupakan penduduk asli Tretes, sedangkan Pak Mano berasal dari Jakarta. Bisa dibilang, Mas Harwis adalah seorang guide untuk menemani Pak Mano selama pendakian ini. Menariknya, Pak Mano adalah seorang alumni/lulusan dari Mapala Universitas Indonesia! Keren! Hal itu sudah terlihat dari perawakannya yang menunjukkan seorang pendaki kawakan. Percakapan perkenalan pun mulai berlanjut.
Pos 1 Pet Bocor - Pos 2 Kokopan - Pos 3 Pondokan
Sekitar pukul 09.15 WIB, setelah beberapa tas keril milik kami sudah selesai ditata, mobil
hardtop yang kami tumpangi mulai berangkat meninggalkan Pos 1 Pet Bocor. Perlu diketahui, mobil
hardtop yang kami tumpangi adalah mobil yang memang biasa digunakan oleh penambang setempat untuk mengangkut belerang-belerang hasil dari tambang di gunung
Welirang. Jadi, hanya di waktu-waktu tertentu saja mobil ini tersedia dan kita bisa menumpanginya. Dan kebetulan, hari ini adalah hari keberuntungan untuk kami, hehe.
Selama di perjalanan menuju pos berikutnya, gue sangat menikmati trek demi treknya. Bahkan, kalo gue bisa bilang, gue seperti sedang menaiki wahana esktrim yang ada di Dufan, wkwkwk. Bisa dibayangkan, jalur pendakian yang didominasi oleh berbatuan kecil hingga besar dan disertai beberapa tanjakan yang curam, kemudian dipaksa dilalui oleh si
hardtop ini! Sepanjang perjalanan pun, tubuh gue terombang-ambing ke sana ke mari, wkwk.
Gokil!
POS 2 KOKOPAN - Sekitar pukul 09.55 WIB, akhirnya kami tiba di Pos 2 Kokopan. Wow! Waktu yang terbilang sangat singkat, karena jika pada pendakian normal saja bisa memakan waktu hingga 3-4 jam. Dan ini, hanya kurang dari 1 jam saja, wkwk. Sambil menunggu Si
hardtop diistirahatkan, gue pun juga menyempatkan untuk mengistirahatkan kaki dan tangan yang pegal bergelantungan selama perjalanan, wkwk. Setelah 30 menit beristirahat, perjalanan kami lanjutkan kembali menuju pos berikutnya. Mesin mobil pun mulai dihidupkan.
POS 3 PONDOKAN - Jalur menuju Pos 3 Pondokan, ternyata jauh lebih curam dibanding sebelum-sebelumnya. Namun, itu tidak masalah bagi si
hardtop.
Hardtop ini tetap bergerak tangguh melawan bongkahan-bongkahan batu besar yang terdapat di sepanjang jalur pendakian. Selama menyusuri jalur menuju Pos 3 Pondokan, kami pun hampir tidak menemui pendaki lain, sangat terbilang sepi. Di sepanjang jalur, kami disuguhkan penampakan beberapa gugusan pohon berwarna coklat kekuningan yang disebabkan dari sisa kebakaran waktu lalu. Pada sekitar pukul 11.05 WIB, akhirnya kami tiba di Pos 3 Pondokan. Waktu tempuh yang terbilang sangat singkat.
Seperti yang sering diceritakan oleh para pendaki, Pos 3 Pondokan adalah sebuah area
camp site atau sebuah mini komplek yang dihuni oleh sekumpulan penambang-penambang belerang yang digunakan sebagai tempat menyimpan/mengumpulkan/menimbun sementara belerang-belerang hasil dari penambangannya. Jadi, tidak heran kalau di area ini banyak terdapat tempat semacam gubuk/rumah kecil yang dibangun oleh para penambang. Di Pos 3 Pondokan ini juga sebagai titik jalur persimpangan bagi para pendaki yang hendak melanjutkan pendakian ke puncak
Welirang atau
Arjuno. Jalur pemisahnya pun sudah cukup jelas. Di Pos 3 Pondokan ini, terdapat sumber mata airnya juga.
Pos 3 Pondokan - Lembah Kijang (Camp Area)
Mengacu dari perencanaan awal kami, setelah tiba di Pos 3 Pondokan, perjalanan kami lanjutkan menuju Lembah Kijang, yang nantinya sebagai tempat
camp kami selama 2 malam. Nanti, sesampainya di sana, kami langsung segera membuka tenda dan merapihkan barang-barang sembari makan siang, kemudian langsung melakukan
summit ke puncak
Welirang dengan target sebelum waktu gelap sudah kembali ke tempat
camp ini lagi. Dan melakukan
summit ke puncak
Arjuno keesokan harinya.
Pada pukul 11.25 WIB, kami sudah tiba di Lembah Kijang. Saat pertama kali kaki memijakkannya dan mata menatap lebar-lebar tempat ini, hanya perasaan kagum dan
speechlesss yang tergambar. Tempat ini bak seperti sebuah taman surga kayangan yang sering diceritakan di dongeng-dongeng. Sebuah sabana luas yang dihuni oleh hijaunya reremputan asri yang sedang menari-nari tehempas angin dan menjulangnya para gugusan pepohonan, yang mengisyaratkan bahwa mereka adalah penjaga surga ini. Indah banget!
Masya Allah. Yang menjadi nilai tambah dari tempat ini pada saat itu adalah tidak adanya pendaki lain selain kami. Hal ini seperti taman surga yang sengaja sudah kami pesan, wkwkwk. Mari kita bongkar tas keril!
Lembah Kijang (Camp Area) - Puncak Welirang
Setelah tenda sudah didirikan, barang-barang lainnya sudah ditata rapih, dan perut sudah terisi, kemudian kami berencana akan melakukan
summit ke puncak
Welirang, karena mengingat kami masih memiliki banyak waktu. Pada sekitar pukul 13.10 WIB, kami mulai mengawali
summit. Hanya sebuah tas
daypack saja yang dibawa oleh masing-masing kami. Tidak lupa juga membawa
headlamp dan mantel hujan.
Bismillah.
Jalur menuju puncak
Welirang, hampir tidak ditemui trek bonus. Sejak kami memulainya, hanya berupa trek tanjakan tanah dan berbatuan saja yang tersaji, dan dikelilingi pepohonan sisa dari kebakaran. Jalur ini pun cukup jelas. Saat di tengah perjalanan, hujan ringan mulai turun, mantel hujan pun mulai kami kenakan.
Sekitar 2 jam perjalanan, kami tiba pada sebuah area terbuka yang diisi oleh beberapa tanaman khas, seperti bunga edelweiss dan pohon cantigi. Para pendaki biasa menyebutnya dengan Pasar Bubrah atau lapangan. Sejenak, kami beristirahat di tempat ini.
Perjalanan kami lanjutkan kembali. Trek berikutnya yaitu sedikit turun dan naik meilipir melewati punggungan gunung. Dari tempat ini, penampakan gunung Kembar dan gunung
Arjuno sudah terlihat, namun sayang, cuaca pada saat itu hujan ringan, sehingga tidak begitu jelas. Tidak lama dari itu, nanti akan ditemukan percabangan jalur. Jangan sampai salah memilih, ambillah sisi jalur sebelah kanan untuk menuju puncak
Welirang, karena jalur sisi sebelah kiri digunakan khusus untuk para penambang belerang saja.
Setelah itu, jalur pendakian berubah menjadi seperti sebuah tanah lapang yang luas. Dari sini, puncak
Welirang sudah terlihat. Dan di sepanjang jalur ini, akan dijumpai sebuah gua yang sering ditemui juga oleh para pendaki. Di sepanjang jalur ini, jalur masih menanjak, namun sudah tidak begitu berat dan terjal, hanya dari bau belerang saja yang kadang kala mengganggu pernapasan. Untungnya, pada saat itu masih hujan ringan, sehingga bau dari belerang tidak begitu menyengat penciuman. Dan a
lhamdulillah, kurang lebih sekitar 4 jam lama perjalanan, tepatnya pada pukul 15.50 WIB, kami tiba di puncak
Welirang!
 |
| Di Puncak Welirang Bersama Pak Mano |
Puncak Welirang - Lembah Kijang (Camp Area)
Tidak banyak yang kami lakukan di puncak
Welirang, mengingat cuaca pada saat itu kurang bersahabat, sehingga di keliling pun hanya terdapat penampakan putih saja. Biasa para pendaki menyebutnya, "tembok", wkwkwk. Padahal, jika cuaca cerah, dari puncak ini dapat terlihat penampakan gunung
Arjuno, gunung Semeru, ataupun gunung Kembar. Tidak lama dari itu, pada pukul 16.15 WIB, kami mulai meninggalkan puncak dan turun kembali menuju Lembah Kijang. Sepertinya kami baru akan tiba malam hari. Dan pada saat di pertengahan perjalanan turun, cuaca tiba-tiba berubah menjadi cerah, pada saat itu juga kami sedikit menyempatkan untuk mengabadikan
moment yang ada.
Selama perjalanan turun, pergerakan kami tidak begitu cepat, kami bergerak santai, dan sesekali berhenti juga untuk sekadar beristirahat sambil minum membasahi tenggorokan. Khususnya, ketika pada waktu maghrib, kami sejenak berhenti dahulu sambil menunggu waktu maghrib berlalu. Dan sekitar pada pukul 19.00 WIB, kami sudah tiba di Lembah Kijang. Segera, kami menyiapkan beberapa makanan untuk makan malam, sambil diselingi ngobrol-ngobrol ringan di antara kami. Setelah itu, mengistirahatkan tubuh untuk melanjutkan
summit ke puncak
Arjuno di esok hari.
Cerita pun berlanjut dan dituangkan pada coretan berikutnya
"Catatan Pendakian (Solo Hiking) ke Gunung Arjuno - Welirang dari Jakarta Bagian 2".
Rundown :
Comments
Post a Comment