Hari keempat, berangkat menuju Pak Chong
Hari ini tanggal 18 April 2018, inilah hari keempat kami, melanjutkan dari perjalanan sebelumnya di hari ketiga kemarin pada tulisan
"Backpacker Murah ke Thailand : Hari Ketiga ke Tempat Paling Rekomendasi di Hua Hin (Seenspace Hua Hin)". Di hari keempat, di mana kami sudah menyusun rencana, pagi ini akan bertolak ke suatu daerah yang berada lumayan jauh dari Bangkok, yakni
Pak Chong Khao Yai. Kenapa kami sampai sejauh itu? tidak lain karena fokus pada tujuan kami
, yaitu
Palio Village dan
Primo Piazza, sebuah tempat destinasi yang cukup unik dan menarik untuk dikunjungi karena terkenal dengan bangunan-bangunan ala Eropa, tentu dengan versi Thailand, oleh karena itu, gue penasaran juga dan coba menyusurinya.
Berangkat dari Panmanee Apartment
Pagi itu, kami sudah berangkat menuju Terminal Bus Mo Chit menggunakan taksi, yang kami berhentikan ketika sedang melintas. Sebelum itu, saat kami
check-out hotel, kami pun juga menitipkan salah satu tas keril milik kami pada petugas resepsionis, alasannya karena besok kami akan kembali menginap lagi di sini. Jadi, kami hanya 1 malam saja di
Pak Chong nanti, justru itu, kami rasa, tidak perlu membawa banyak barang bawaan.
Setibanya di terminal bus Mo Chit, kami sempat bingung, loket manakah yang menjual tiket bus/
minivan jurusan
Pak Chong, karena di sini terdapat banyak sekali loket. Menurut informasi dari teman-teman
blogger, carilah di loket nomor 49 atau 86, oke, kita coba, ternyata memang benar begitu. Harga tiket bus untuk sekali jalan 146 Baht atau sekitar Rp. 65.000,-/
pax. Singkat waktu, lalu kami menaiki bus yang sudah tersedia pada saat itu. Berhubung lama perjalanan nanti akan ditempuh selama 3 jam, gue sudah mengantisipasinya dengan membawa sedikit
doping agar tidak mabuk di tengah perjalanan, haha.
Turun di Tugu Rusa, lalu ke tempat penyewaan motor
Setelah 3 jam lebih perjalanan, ketika bus sudah memasuki daerah
Khao Yai, kami bilang pada si
driver, bahwa kami minta diturunkan di persimpangan
Tugu Rusa (sambil menunjukkan foto yang dimaksud, foto yang didapat dari
google street) atau di
Ratchasima Tour (lihat di sini). Jika kalian berencana ingin menyewa motor selama di
Khao Yai, kami merekomendasikan turunlah di sana, karena tidak jauh dari lokasi tersebut, terdapat tempat penyewaan motor, cukup dengan berjalan kaki beberapa menit saja
(lihat petunjuk), seperti yang kami lakukan pada saat itu. Harga sewa motor pada waktu itu 350 Baht atau sekitar Rp. 160.000,- per 24 jam. Sebagai jaminannya, cukup dengan melampirkan 1 paspor asli dan mengisi
form registrasi.
Untuk kembali ke Bangkok nanti, kami berencana ingin menggunakan
minivan, yang biasanya banyak tersedia di sekitaran persimpangan
Tugu Rusa.
Setelah motor sudah didapat, lalu kami menuju penginapan yang lokasinya tidak begitu jauh dari tempat penyewaan motor tadi. Kami menginap di Rose Villa Resort
(lihat di sini), dengan harga yang tidak begitu mahal, harga yang sudah kami pesan sebelumnya melalui situs
Agoda.
Bermain ke Palio Village dan Primo Piazza
Sehabis
check-in kamar dan menyimpan beberapa barang bawaan, lalu kami bergegas menuju
Palio Village dan
Primo Piazza dengan menggunakan sepeda motor yang kami sewa. Untuk menuju lokasinya pun, kami hanya mengandalkan
google map aja, haha. Kunjungan pertama kami adalah
Palio Village, yang ditempuh selama 30 menit dari hotel dengan kondisi lalu-lintas yang lancar, hemmm, jarak yang cukup jauh juga sebenarnya
(lihat di sini).
Saat pertama kali tiba, cukup kagum dan merasa terdorong juga untuk segera mengambil gambar. Hampir semua bangunan yang ada di sini mempunyai angle yang sangat menarik dan begitu artistic. Tempat ini, kalo boleh gue bilang seperti desa Italia kecil yang dikemas secara unik, dengan jalan-jalan sempit kecil yang dipenuhi banyak toko kecil, seperti kedai kopi, toko cinderamata dan restoran. Untuk masuk ke tempat ini, pada waktu itu tidak dikenakan biaya tiket masuk, cukup membayar biaya parkir kendaraan aja.
Setelah puas mengitari tempat ini, kami langsung ke tempat berikutnya, yaitu
Primo Piazza. Jika dilihat di
map (lihat di sini), lokasi tersebut tidak begitu jauh, hanya beberapa menit aja. Oke, meluncur.
Sesampainya di sana, kami diharuskan membayar tiket masuk dengan harga 100 Baht atau sekitar Rp. 45.000,- per orang (include feeding alpaca/sejenis domba). Saat kami memasuki tempat ini, kami merasa ini adalah tempat destinasi yang tepat yang kami pilih. Kami pun mengira sepertinya kami tidak sedang berada di Thailand. Tempat yang menarik, tempat yang berkonsep dan terinspirasi dari desa Tuscan, Italia. Sepintas, mirip juga seperti berada di New Zealand, ya, walaupun belum pernah ke sana, hahaha. Di sini terdapat beberapa cafe sebagai tempat untuk sekedar mengisi perut dan bersantai. Baiklah, kita coba kelilingi tempat ini.
Pak Chong Night Market
Sebelum malam tiba, kami sudah kembali ke hotel setelah dari
Primo Piazza, tujuannya adalah menyisihkan tenaga untuk berkunjung ke
Pak Chong Night Market malam ini. Lokasi nya pun tidak jauh
(lihat di sini), yaitu persis di dekat persimpangan
Tugu Rusa yang gue sebutkan di awal tulisan. Pada pukul 08.00 malam, kami bergegas. Tempat ini, tidak berbeda jauh seperti
Hua Hin Night Market yang pernah kami kunjungi waktu lalu, yang menjual berbagai jenis makanan, minuman, pakaian, pernak-pernik, dll. Harga-harga di sini tentunya sangat murah. Sepertinya ini akan menjadi malam yang mengenyangkan.
Menutup hari yang seru, hari keempat
Sehabis dari
Pak Chong Night Market, kami kembali ke hotel untuk sedikit
packing barang-barang kami, setelah itu beristirahat, karena besok kami sudah harus kembali lagi ke Bangkok. Kami merekomendasikan, sebenarnya waktu yang ideal untuk berkunjung ke
Pak Chong ini baiknya dilakukan selama 2-3 hari atau lebih, dengan durasi
trip yang lebih lama, kalian bisa mengunjungi ke banyak tempat yang ada di sini, seperti Taman Nasional Khao Yai, Thames Valley, The Hobbit House, dan tempat-tempat lainnya. Terima kasih, kami tutup hari yang lelah dan singkat ini dan dilanjutkan esok hari. Sekarang, waktunya beristirahat.
Berapa cost yang dikeluarkan?
Comments
Post a Comment